Akan Jadi Apa Setelah Sarjana?

Gambar dari Google.

Pertanyaan ini senantiasa menggelayut dalam benak calon sarjana. Saya mengalaminya, dulu. Ketika memasuki tahun kelima kuliah dan mulai mencari-cari topik tugas akhir, pertanyaan “akan jadi apa setelah sarjana” selalu mengganggu pikiran. Wajar terjadi, karena sebentar lagi akan meninggalkan dunia mahasiswa dan memasuki dunia lain, dunia kerja.

Sewaktu memilih masuk Geofisika saya bukannya tanpa pertimbangan matang. Meskipun saat itu yang saya tahu tentang Geofisika hanyalah sebatas BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) yang sekarang sudah menjadi BMKG dengan tambahan klimatologi. Seiring perjalanan waktu, informasi mengenai lapangan pekerjaan semakin bertambah. Tapi, ini malah menambah kebingungan saya, mau pilih mana?

Read the rest of this entry

Extended Elastic Impedance (Penerapan Praktis)

by : ISH

1. Selayang Pandang

Metode yang pertamakali digunakan untuk inversi pada non-zero offset adalah Elastic Impedance (EI) yang diperkenalkan oleh Connolly,1999. Metode ini hanya bekerja pada sudut yang tidak lebih besar dari 30 derajat.

Oleh Whitcombe, 2002 menemukan bahwa dengan melebarkan sudut pada persamaan Shuey menjadi -90o sampai dengan 90o maka kita bisa mendapatkan informasi physical property dari batuan. Secara matematis ini bisa didapatkan dengan mengganti sin2(q) dengan c  pada persamaan two term Shuey:

(Artikel lengkap beserta gambar dan persamaan dapat didownload di sini)

Pseudo 3D Processing

By : Andi Mannappiang

Pseudo 3D is a term used in the survey industry for 2D seismic lines shot at 25 to 50m spacing to obtain a much denser grid than the usual site survey grid of 100m intervals. However, in the past few years, the OgeoSeis seismic processing team has developed the CUBE Method that can innovatively convert 2D seismic lines shot with 50 to 500m spacings into 3D volumes.

A set of several 2D lines covering a site can be converted into a single 3D volume based on dip constraint trace or time slice lateral interpolation. The volumes can be built from stacked data or migrated sections. 3D cubes built from stacks are processed as 3D data with one pass 3D migration and other processing steps. While, cubes from migrated sections are converted and integrated into a 3D cube with their initial processing parameters. Among the benefits of 2D to 3D conversion are:

  • Seismic 3D cube with 2D high resolution
  • Natural 3D cube with time slice presentation
  • Greater data density from 2D data
  • Clear and detailed lateral geological continuity
  • Reliable and accurate direct geohazards indicators
  • True 3D migration from stacked 2D data
  • Multiple added value to 2D survey data cost
  • Integrate Pseudo 3D cubes with existing 3D volumes
  • Enhance existing 3D volumes  resolution (especially    shallow intervals)

Read the rest of this entry

Modeling Fluid Contacts in 2D Volume

By : Irfan Saputra (HRS Jakarta)

fluid_contact_modeling_page_01

Read the rest of this entry

Survey Seismik

By : Ulla (Seismologist, PT. Daqing Citra Technology Services)

Pelaksanaan survey seismik melibatkan beberapa departemen yang bekerja secara dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Departemen-departemen yang terlibat antara lain: Topografi, Seismologist, Processing, Field Quality Control (QC) dan departemen pendukung lainya. Dept. Topografi bertugas untuk memplotkan koordinat teoretik hasil desain. Dept Seismologist bertugas mulai dari pembentangan kabel, penempatan Shot point (proses drilling dan preloading) dan selanjutnya dilakukan penembakan dan recording yang teknis pelaksanaanya dikerjakan di LABO. Data hasil recording diolah oleh departemen processing untuk mendapatkan output data akhir pelaksanaan survey. Untuk mengontrol serta meningkatkan kualitas dalam kegiatan akuisisi data seismik maka dilakukan juga Field QC.

Berikut gambaran umum pekerjaan survey seismik.

TOPOGRAFI

Dalam survey seismik posisi koordintat SP (shot point) dan TR (trace) sangat penting sekali diperhatikan, karena hal ini menyangkut dengan kualitas data yang akan dihasilkan. Departemen Topografi melakukan pengeplotan /pematokan koordinat-koordinat SP dan TR teoritik yang telah didesain. Dalam membuat desain survei seismik terdapat beberapa parameter lapangan yang harus diperhatikan :
1. Trace interval : Jarak antara tiap trace
2. Shot point interval: jarak antara satu SP dengan SP yang lainnya
3. Far Offset: Jarak antara sumber seismik dengan trace terjauh terjauh
4. Near Offset: Jarak antara sumber seismik dengan trace terdekat
5. Jumlah shot point: Banyaknya SP yang digunakan dalam satu lintasan
6. Jumlah Trace: Banyaknya trace yang digunakan dalam satu SP
7. Record length lamanya merekam gelombang seismik
8. fold coverage: Jumlah atau seringnya suatu titik di subsurfece terekam oleh geophone di permukaan

Program kerja yang dilakukan oleh departemen Topografi antara lain:

Survey Lokasi

  • Posisi Lokasi Survey
  • Kondisi Daerah Survey
  • Akses kelokasi survey
  • Perencanaan Pekerjaan
  • Pembuatan peta kerja

Pengukuran Titik Kontrol

Langkah pertama dalam pembuatan titik kontrol adalah mendistribusikan pilar-pilar GPS pada seluruh area. Kemudian BM GPS ini dipasang pada area survai sesuai dengan distribusi dimana pilar tersebut dipasang.
Titik BM yang telah diketahui digunakan untuk menentukan koordinat-koordinat lain yang belum diketahui, misalnya koordinat shoot point atau koordinat receiver.Pada dasarnya pengukuran GPS selalu diikatkan dengan titik dari Bakosurtanal yang bertujuan untuk mengikatkan titik koordinat secara global sehingga titik koordinat tersebut dapat dikorelasikan dengan titik koordinat peta yang lain.

2-bench-mark

Read the rest of this entry