Posted by: geofisikaunhas | February 12, 2009

Modeling Fluid Contacts in 2D Volume

By : Irfan Saputra (HRS Jakarta)

fluid_contact_modeling_page_01

Read More…

Posted by: geofisikaunhas | October 24, 2008

Survey Seismik

By : Ulla (Seismologist, PT. Daqing Citra Technology Services)

Pelaksanaan survey seismik melibatkan beberapa departemen yang bekerja secara dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Departemen-departemen yang terlibat antara lain: Topografi, Seismologist, Processing, Field Quality Control (QC) dan departemen pendukung lainya. Dept. Topografi bertugas untuk memplotkan koordinat teoretik hasil desain. Dept Seismologist bertugas mulai dari pembentangan kabel, penempatan Shot point (proses drilling dan preloading) dan selanjutnya dilakukan penembakan dan recording yang teknis pelaksanaanya dikerjakan di LABO. Data hasil recording diolah oleh departemen processing untuk mendapatkan output data akhir pelaksanaan survey. Untuk mengontrol serta meningkatkan kualitas dalam kegiatan akuisisi data seismik maka dilakukan juga Field QC.

Berikut gambaran umum pekerjaan survey seismik.

TOPOGRAFI

Dalam survey seismik posisi koordintat SP (shot point) dan TR (trace) sangat penting sekali diperhatikan, karena hal ini menyangkut dengan kualitas data yang akan dihasilkan. Departemen Topografi melakukan pengeplotan /pematokan koordinat-koordinat SP dan TR teoritik yang telah didesain. Dalam membuat desain survei seismik terdapat beberapa parameter lapangan yang harus diperhatikan :
1. Trace interval : Jarak antara tiap trace
2. Shot point interval: jarak antara satu SP dengan SP yang lainnya
3. Far Offset: Jarak antara sumber seismik dengan trace terjauh terjauh
4. Near Offset: Jarak antara sumber seismik dengan trace terdekat
5. Jumlah shot point: Banyaknya SP yang digunakan dalam satu lintasan
6. Jumlah Trace: Banyaknya trace yang digunakan dalam satu SP
7. Record length lamanya merekam gelombang seismik
8. fold coverage: Jumlah atau seringnya suatu titik di subsurfece terekam oleh geophone di permukaan

Program kerja yang dilakukan oleh departemen Topografi antara lain:

Survey Lokasi

  • Posisi Lokasi Survey
  • Kondisi Daerah Survey
  • Akses kelokasi survey
  • Perencanaan Pekerjaan
  • Pembuatan peta kerja

Pengukuran Titik Kontrol

Langkah pertama dalam pembuatan titik kontrol adalah mendistribusikan pilar-pilar GPS pada seluruh area. Kemudian BM GPS ini dipasang pada area survai sesuai dengan distribusi dimana pilar tersebut dipasang.
Titik BM yang telah diketahui digunakan untuk menentukan koordinat-koordinat lain yang belum diketahui, misalnya koordinat shoot point atau koordinat receiver.Pada dasarnya pengukuran GPS selalu diikatkan dengan titik dari Bakosurtanal yang bertujuan untuk mengikatkan titik koordinat secara global sehingga titik koordinat tersebut dapat dikorelasikan dengan titik koordinat peta yang lain.

2-bench-mark

Read More…

Posted by: geofisikaunhas | October 21, 2008

Seismic Interpretation (Intro)

By : Ikus

  • Seismic interpretation, whether for hydrocarbon exploration or geotechnical studies, is the determination of the geological significance of seismic data.
  • It is rare that the correctness (or incorrectness) of an interpretation can be ascertained, because the actual geology is rarely known in enough detail. Instead, the test of a good interpretation is consistency with all of the available data.
  • In oil dan gas exploration, emphasis is placed on finding an interpretation that is most favourable for hydrocarbon accumulation.
  • As with many scientific investigations, interpretation are almost always non-unique.

Basic

Seismic Wave

Seismic wave is the convolution of earth’s reflectivity with a seismic wavelet and additional of noise component.

St = Wt * Rt + nt

The reflection of seismic wave is caused by the acoustic impedance (AI) change. AI is rock parameter affected by the type of lithology, porosity, fluid content, depth, pressure, and temperatur.

Illustration of the construction of seismic trace and
seismic section

Read More…

Posted by: geofisikaunhas | July 24, 2008

Seismik Stratigrafi (Intro)

By : Ikus

Studi seismik stratigrafi dimulai dengan analisis penampang seismik untuk menguraikan kerangka stratigrafinya berdasarkan batas ketidakselarasan sekuen atau analisis sekuen seismik. Hal ini bisa dilakukan dengan mengenali dan mengelompokkan ketidakmenerusan dalam pola refleksinya. Dikenal dua jenis batas yaitu batas atas dan bawah yang dikenal dengan batas sekuen seismic (sequence seismic boundary).

Jika paket refleksinya sudah ditetapkan, maka analisis konfigurasi internal paket refleksi dapat dilakukan berdasarkan geometri, kemenerusan, amplitudo, frekuensi, dll atau analisis fasies seismic. Analisis ini dapat digunakan untuk interpretasi sejarah geologi, gross litologi, dan lingkungan pengendapan.

Read More…

Posted by: geofisikaunhas | July 11, 2008

Palinspatic Map

By : Frank Sinartio

Palinspastic map adalah map yang menunjukkan keadaan geology pada suatu saat di masa lalu, surface dan subsurface. Misalnya pada suatu saat (misal awal Pliostocene) bagaimana keadaan struktural dan stratigraphy dari permukaan bumi, juga bagimana keadaan struktural daan stratigraphy dari SB (sequence boundary) atau sandstone dst yang terendapkan pada jaman oligocene (yang lebih tua jadi ada di subsurface).

Secara geometry, horizon-horizon dibalikan ke keadaannya seperti sebelum terjadi fault. Demikian juga folding di luruskan lagi. Secara 2D sering dilakukan “flattening“, tetapi metode ini kelemahannya pada kondisi dimana terjadi strike slip fault atau reverse fault atau gabungan keduanya sering tidak bisa di restore kembali. Atau ada erosi pada “horizons” atau permukaan yang mau dipakai sebagai reference untuk flattening.

Secara 3D dilakukan dengan mengurangkan grid yang akan dipakai sebagai reference dengan grid yang mau dilihat keadaaannya pada saat waktu itu (contoh diatas: “grid oligocene” – “grid pliostocene”) kelemahannya sama dengan cara 2D diatas.

Dua hal lagi yang harus diperhatikan dalam 2D dan 3D “mathematical method” seperti yang saya paparkan diatas. yaitu (1) sering horizons yang kita mau jadikan reference itu tdk flat waktu di endapkan, dan sangat susah mendapatkan berapa derajat kemiringan nya waktu di endapkan. Walaupun hal ini bisa dibantu dengan cara mem-balance-kan secara kinematik (lihat apakah gambar geometry-nya stabil) komponen-komponen (endapan) sekitar permukaan/horizon ini.  (2) Di area dimana ada fault displacement yang besar, untuk normal fault, daerah tdk ada data (karena top horizon-nya tidak ada atau “faulted out“), jadi waktu dikurangkan maka daerah yang tidak ada datanya akan bertambah besar. Untuk reverse fault harus selalu memakai permukaan yang sama, apakah dua-duanya pakai footwall-nya atau dua-duanyanya pakai hanging wall-nya.

Read More…

Older Posts »

Categories